Cerobong Djatie, Saksi Bisu Serangan Pasukan Jenderal Soedirman

jatirejo
Penampakan cerobong Djatie Loceret, Nganjuk, dilihat dari jalan Desa Jatirejo
matakamera, Nganjuk – Jika berkunjung ke Desa Jatirejo, Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, anda akan melihat sebuah poster unik, yang terpasang tepi lahan terbuka tepat di tengah-tengah desa. Poster berisi gambar wajah sosok Belanda zaman lampau, bernama WM Van Den Boumen. Menurut warga setempat, Van Boumen adalah pemilik pabrik gula (PG) zaman colonial bernama PG Djatie.

Saat Indonesia masih di bawah penjajahan Belanda, dia adalah salah satu direktur NV Maatschapji Tot Exploitatie Van de Soikeronder Djati, perusahaan Belanda yang mendirikan PG Djatie pada 1898.

Bambang, 55, salah satu tokoh warga Desa Jatirejo mengungkapkan, bahwa lahan kosong seluas sekitar 11,8 hektar di desanya itu dahulu adalah kompleks pabrik besar yang penuh dengan bangunan. Namun pada tahun 1949, saat terjadi agresi militer Belanda di Indonesia, sebagian besar bangunan pabrik gula itu dihancurkan oleh pasukan gerilya Panglima Besar Jenderal Soedirman. “Pasukan Soedirman menggempur dari markas persembunyian di Desa Bajulan, Kecamatan Loceret,” kata Bambang.

Serangan itu dilakukan bukan tanpa alasan. Karena selama beberapa hari Soedirman bergerilya di Nganjuk, dia dan pasukannya berhasil mendeteksi bahwa kompleks PG Djatie saat itu diam-diam digunakan oleh tentara Belanda sebagai markas komando militer terselubung. Setelah menentukan waktu dan momentum yang pas, dilakukannya serangan mendadak pada dini hari yang membuat ratusan tentara Belanda yang sedang bersembunyi di dalam pabrik kocar-kacir. “Pasukan Soerdirman menggempur pakai senapan api dan meriam yang dirampas dari penjajah,” sambung Bambang.

Serangan fatal itu nyaris meluluhlantakkan seluruh bangunan PG Djatie. Kecuali, sebuah cerobong asap yang sampai hari ini masih berdiri kokoh tepat di tengah-tengah lahan. Menurut Bambang, yang mendengar cerita dari kaum sesepuh desa, cerobong itu sempat beberapa kali terkena serangan peluru meriam pasukan Soedirman, tetapi tidak sampai roboh. “Tapi sampai sekarang masih ada bekas lubang dan retakan dinding cerobong bagian atas, Itu bekas kena hantaman peluru meriam,” tutur Bambang.(ab)
Share on Google Plus

About Matakamera

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment

Comments System

Disqus Shortname