Puteri Indonesia Mengajar di Desa Pelosok Nganjuk

sedudo
elvira berpose di air terjun sedudo sawahan
matakamera, Nganjuk – Untuk kedua kalinya, Puteri Indonesia 2014 Elvira Devinamira berkunjung ke Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Pada kunjungan pertamanya awal 2015 lalu, dia memenuhi undangan resmi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Nganjuk, untuk mempromosikan kompleks wisata Air Terjun Sedudo. Tapi kali ini, selebriti cantik yang menjadi lawan main Raditya Dika dalam film bioskop ‘Single’ itu memilih tinggal di sebuah desa pelosok, yang terletak di lereng Gunung Wilis, Kabupaten Nganjuk. Untuk apa?

Rupanya, peraih Best National Costume dalam ajang Miss Universe 2014 ini sedang mengikuti kuliah kerja nyata (KKN) dari kampus tempatnya kuliah, di Universtas Airlangga (Unair) Surabaya. Ya, Elvira saat ini memang tercatat sebagai salah satu mahasiswi S1 fakultas hukum di kampus negeri ternama itu, dan sekarang sudah menjelang semester akhir ditandai dengan kegiatan KKN. Menariknya, Elvira terbagi dalam kelompok KKN yang harus tinggal sebulan di sebuah desa pelosok yang jauh dari hiruk-pikuk kota besar. “Hai Guys, akhirnya sudah sampai di Nganjuk, udah siap semuanya. Udah bawa almamater. So, wish me luck!” ucap Elvira, dalam video yang diunggahnya di Instagram pada 20 Januari 2016.

Dara 22 tahun yang memiliki tinggi badan 175 sentimeter itu juga mengunggah beberapa video dan foto aktivitasnya di lokasi KKN, yang tepatnya berada di Dusun Bomo, Desa Duren, Kecamatan Sawahan, Nganjuk. Antara lain, aktivitasnya mengajar anak-anak SD dan TK di desa pelosok itu untuk bisa bernyanyi dengan lirik bahasa Inggris. “Habis LA (Los Angeles) terbitlah Nganjuk,” ucap Elvira kemudian. Maksudnya, sebelum datang ke Nganjuk Elvira baru saja menuntaskan salah satu kesibukan karirnya di LA, California, Amerika Serikat.

Sekadar informasi, pada kunjungan pertama ke Nganjuk April 2015 lalu, tim matakamera.net sempat mewawancarai Elvira terkait ketertarikannya dengan dunia seni dan budaya Nganjuk. salah satunya, Elvira bicara soal seniman ledhek alias waranggana yang dahulu kerap dipandang negatif. Elvira pun menjawabnya dengan perbandingan baju kebaya, yang awalnya juga dianggap busana vulgar dan tidak sopan. “Tapi akhirnya pandangan itu akhirnya bisa berubah, bahkan menjadi kebanggaan,” ujarnya. Untuk pemain ledhek, Elvira menyebut bisa bernilai positif jika menghapus sisi-sisi kebiasaan buruknya, seperti gampang menerima sawer.(ab)
Share on Google Plus

About matakamera.net

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment

Comments System