Dalami Korupsi Batik PNS, Kejaksaan Nganjuk Panggil Kepala Bappeda, Kepala DPPKAD, Inspektorat dan Anggota DPRD

Korupsi Batik
Kejaksaan Negeri Nganjuk ternyata masih tancap gas, meskipun baru-baru ini sudah menetapkan dan menahan empat tersangka. Yang terbaru mereka memanggil tiga pejabat pemkab Nganjuk dan seorang anggota DPRD Nganjuk untuk mendalami proses perencanaan anggaran proyek
matakamera, Nganjuk - Usai menetapkan empat orang tersangka dalam kasus korupsi pengadaan seragam batik untuk PNS Nganjuk, Kejaksaan Negeri (Kejari) Nganjuk masih terus berupaya mendalami petunjuk dan materi untuk melengkapi berkas penyidikan. Yang terbaru pada Rabu 4 April 2016, penyidik Kejari Nganjuk memanggil tiga pejabat penting di Pemkab Nganjuk masing-masing Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Bambang Eko Suharto, Kepala Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPPKAD), serta Inspektur Inspektorat Pemkab Nganjuk Lies Nurhayati. Selain itu, Kejari Nganjuk juga memanggil dan memeriksa satu orang anggota DPRD Nganjuk yang membidangi anggaran, Basori.
Pemeriksaan empat orang pejabat penting di Kabupaten Nganjuk ini dilakukan terpisah di Gedung Kejari Nganjuk, Jalan Dermojoyo, Kelurahan Payaman, Kecamatan Nganjuk. Menurut keterangan Kepala Seksi Intelijen Kejari Nganjuk Anwar Risa Zakaria, mewakili Kepala Kejari Nganjuk Umar Zakar, pemeriksaan empat pejabat itu adalah untuk mendalami kronologi tahap perencanaan proyek pengadaan seragam batik PNS Nganjuk 2015, sehingga sampai memunculkan nilai anggaran dari APBD Nganjuk sebesar Rp 6, 05 milyar. "Dari proses perencanaannya kita gali. Dan empat saksi ini kami nilai memilik banyak informasi soal penganggaran daerah," ucap Anwar.
Pihak Kejari Nganjuk tidak menyebut detail poin per poin pertanyaaan yang diajukan untuk keempat pejabat tersebut. Begitu pula dengan kemungkinan bahwa di kemudian hari akan muncul nama-nama tersangka baru ditandai dengan masih berlangsung proses pemeriksaan lanjutan terhadap saksi-saksi baru tersebut. "Wah kalau itu belum bisa kami sampaikan sekarang. Tunggu saja," ujar Anwar setengah berteka-teki.
Sumber terpercaya matakamera.net menyebutkan, penyidik memang mencurigai prosedur perencanaan sehingga sampai muncul mata anggaran seragam batik sebesar itu. Mengingat, pada tahun anggaran 2015 awalnya hanya diplot anggaran seragam sekitar Rp 200 jutaan. Namun belakangan muncul anggaran baru untuk pengadaan pakaian hari-hari tertentu berwujud batik dengan nilai awal sekitar Rp 4 milyar, lalu bertambah lagi menjadi Rp 5,2 milyar, dan terakhir menjadi Rp 6, 05 milyar dengan proses yang setengah misterius.
Untuk diketahui, pada 29 April 2016 lalu Kejari Nganjuk menahan empat tersangka masing-masing Sekda Nganjuk Masduqi selakub pejabat pengguna anggaran (PA) proyek batik, Edi Purwanto, Direktur CV Ranusa selaku pemenang lelang proyek seragam batik, Sunartoyo Direktur PT Delta Inti selaku rekanan CV Ranusa, serta satu lagi tersangka berinisial MSS, Direktur CV Agung rezeki Surabaya selaku distributor rekanan CV Ranusa.
Proyek pengadaan seragam batik senilai Rp 6, 05 milyar ini sebelumnya dilaunching oleh Bupati Nganjuk Taufiqurrahman bersama sang istri, Ita Triwibawati (ketua DekranasdaNganjuk), pada Oktober 2015 silam di tengah acara pemilihan Kangmas Mbakyu Nganjuk 2015. Jika di kemjudian hari ditemukan petunjuk dan alat bukti kuat yang menunjukkan keterlibatan nama-nama tersebut, Kejari Nganjuk mengaku akan menindalanjutinya termasuk dengan menetapkan tersangka baru.(ab)

Editor : Panji Lanang Satriadin
Share on Google Plus

About Matakamera

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment

Comments System

Disqus Shortname