Pandergoen, Polisi Intelijen asal Nganjuk Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional

Kapolres Nganjuk AKBP Dewa Nyoman Nanta Wiranta diangkat naik ke kepala reog, di puncak peringatan HUT Bhayangkara ke-73 Kamis 11 Juli 2019, di Alun-Alun Berbek (ist)

Kamis 11 Juli 2019
Edited by Panji LS

matakamera, Nganjuk - Puncak peringatan hari Bhayangkara ke-73 di Kabupaten Nganjuk dipusatkan di Alun-alun Berbek, Kamis, 11 Juli 2019.

Acara yang dimulai pukul 08.00 WIB hingga 11.00 WIB tersebut dimeriahkan dengan berbagai kegiatan.

Antara lain pertunjukan tari Salepuk, pemutaran film, PKS dan drum band dari SMKN 1 Nganjuk, seni reog dan jaranan, pemberian penghargaan kepada polisi berprestasi, masyarakat berprestasi membantu kerja polisi, penerimaan CSR, hingga pertunjukan wayang kulit semalam suntuk.

Kapolres Nganjuk AKBP Dewa Nyoman Nanta Wiranta menyampaikan, peringatan hari Bhayangkara ke-73 tahun ini di Nganjuk telah didahului dengan berbagai kegiatan. Baik kegiatan olahraga, sosial, keagamaan, maupun penelusuran jejak pejuang polisi di Nganjuk. Bahkan, tepat pada 1 Juli 2019 dini hari, dilaksanakan renungan suci di monumen Polri Dusun Turi, Desa Ngadiboyo, Kecamatan Rejoso.

Namun yang paling menarik dalam acara puncak peringatan hari Bhayangkara tahun ini, Polres Nganjuk membentuk tim khusus untuk melakukan penelusuran sejarah pejuang Polri yang ada di Nganjuk.

Pejuang itu bernama Pandergoen, seorang polisi Belanda keturunan orang Belanda. Namun saat perang kemerdekaan, Pandergoen asal Desa Baleturi Kecamatan Prambon ini berpihak kepada Indonesia dan berjuang bersama pejuang di Nganjuk.

Menurut Kapolres, Pandergoen adalah orang Nganjuk asli, tetapi pernah mendaftar sebagai polisi Belanda.

Pandergoen pertama menjadi polisi pada 30 Maret 1929, di usia 20 tahun. Berdinas pertama di Semarang dengan pangkat Agen Polisi kelas II, sebagai intelijen.

Kemudian, pada agresi Belanda kedua, dia kembali ke Nganjuk untuk membantu pejuang di Nganjuk, termasuk pejuang TNI, polisi dan warga sipil.

Pandergoen banyak memberikan informasi tentang mobilitas tentara Belanda kepada para pejuang di Nganjuk. Sehingga, para pejuang dapat mengkondisikan persiapan perlawanan terhadap Belanda. Saat itu, sering tentara Belanda mengalami kekalahan dengan korban meninggal setelah pergerakan mereka terendus kemudian diserang.

Kapolres mengatakan, peran Pandergoen sebagai polisi intelijen sangat strategis untuk menginformasikan kepada para pejuang kemerdekaan.

Tak hanya berhenti pada hasil penelusuran, Kapolres Nganjuk juga menganggap sosok Pandergoen layak diusulkan menjadi pahlawan nasional.

Sehingga, seluruh masyarakat Indonesia mengetahui bahwa di Nganjuk pernah ada seorang pejuang polisi yang sangat berperan selama perjuangan melawan penjajah Belanda.


(ds/ab/2019)
Share on Google Plus

About Matakamera

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment

Comments System

Disqus Shortname