Uniknya Raja Semut di Nganjuk yang Dipuja Ribuan Orang

Seorang model wanita berpose dengan latar teras Kelenteng Hok Yoe Kiong Sukomoro, Nganjuk (foto: gigihgo)

Senin 4 Februari 2019
by Panji Lanang Satriadin

matakamera, Nganjuk - Setiap perayaan tahun baru Imlek, tempat ibadah umat Tri Dharma (TITD) atau kelenteng selalu ramai dikunjungi peziarah.

Seperti halnya Kelenteng Hok Yoe Kiong, yang terletak di tepi Jalan Raya Surabaya-Solo, Desa/Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur.

Dalam perayaan Imlek 2570 ini, ribuan peziarah dari dalam dan luar kota datang secara bergelombang, untuk berziarah sekaligus berdoa di rumah peribadatan ini. Salah satunya, untuk memanjatkan doa khusus di altar Hia Ong, atau Raja Semut.

Menurut penuturan Subastian Wuisan, Kepala Seksi Kerohanian TITD Hok Yoe Kiong, altar Raja Semut berwujud gundukan tanah pasir kering, setinggi hampir dua meter dan diameter 1 meter. Posisinya tampak berdiri menyandar di sudut dinding utara ruangan.

Bentuknya sangat berbeda dengan 12 altar dewa-dewi lainnya, seperti Dewa Utama Kongco Kong Tik Tjoen Ong, Dewi Kwan Im, Budha Sakya Wuni, Khong Cu hingga Mahadewa Thai Sang Laocin.

Kuil Raja Semut berwujud gundukan tanah, yang diberi ornamen hiasan seperti kain kelambu, meja bejana lilin dan dupa, hingga selembar jubah merah, yang berfungsi untuk menutupi bagian atas gundukan berupa sarang atau rumah semut.

Singgasana pemujaan Hia Ong atau Raja Semut terletak di sudut ruangan paling utara, di kompleks Kelenteng Hok Yoe Kiong, Sukomoro, Nganjuk, Jawa Timur (foto : matakamera.net)


Di dalamnya benar-benar terdapat ribuan ekor semut merah, yang membangun koloni. Hewan-hewan kecil ini membentuk gundukan tanah yang terus meninggi dari tahun ke tahun.

“Dalam istilah Tiongkok, namanya Hia Ong, alias Raja Semut,” ujar Subastian.

Uniknya, ribuan ekor semut itu tidak bebas berkeliaran di sekitar sarang atau di lantai altar. Mereka sangat misterius.

Subastian menyebut, sangat sulit tertangkap mata jika tidak membongkar isi gundukan tersebut. Dia yang sudah berpuluh-puluh tahun mengelola kelenteng pun, mengaku hanya beberapa kali saja, secara tidak sengaja melihat kemunculan semut-semut itu dari lubang sarang mereka.

“Banyak yang meyakini, mereka (semut) hanya muncul di hari-hari tertentu, seperti hari ulang tahun Kongco atau waktu hari raya Waisak,” tuturnya.

Rumah semut di dalam kelenteng ini hanya ada satu-satunya di Indonesia. Tidak ada kelenteng lain yang memiliki altar serupa. Keberadaan rumah semut itu pula yang disebut Subastian telah melambungkan nama Kelenteng Hok Yoe Kiong ke seluruh nusantara.

Sehingga, sampai saat ini, sudah ribuan umat Tri Dharma dari luar kota hingga luar pulau singgah ke Nganjuk, hanya untuk berziarah sambil memanjatkan doa di depan altarnya.

“Orang yang datang ke sini, pasti akan merasakan langsung aura dan berkahnya,” ujarnya.

Menurut riwayat yang tercatat rapi di dokumen pengurus kelenteng, gundukan sarang semut sudah ada sejak tahun 1950, atau tiga tahun sebelum kelenteng dibangun pada tahun 1953.

Saat itu, lahan di lokasi setempat masih berupa lahan tempat penyimpanan hasil pertanian milik warga Tionghoa Nganjuk, sekaligus perintis berdirinya Kelenteng Hok Yoe Kiong. “Ketika (kelenteng) dibangun, sarang semut itu tidak ikut digusur, tapi akhirnya malah dibikinkan altar sendiri,” ujar Subastian.

Rupanya, sejak awal para pendiri kelenteng sudah membaca tanda-tanda keistimewaan gundukan tanah tersebut. Mereka pun sampai sekarang rutin memanjatkan doa di depan altar semut, dan mengaku bisa langsung merasakan berkah rezeki melimpah dan kehidupan tentram sepanjang tahun.

"Setiap saat gundukan sarang semut ini bertambah tinggi. Oleh umat Tri Dharma dipercaya, semakin tinggi gundukantanah ini, maka semakin tinggi pula berkah dan rezeki mereka," pungkas Subastian.

(ds/ab/2019)
Share on Google Plus

About Matakamera Production

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment

Comments System

Disqus Shortname