Begini Asal-Muasal Penghuni Misterius di Kuil Raja Semut Sukomoro

imlek nganjuk
Altar pemujaan Hia Ong atau Raja Semut terletak di sudut ruangan paling utara, di kompleks Kelenteng Hok Yoe Kiong, Sukomoro, Nganjuk, Jawa Timur (matakamera/foto:panjils)
Minggu, 22 Januari 2017
matakamera, Nganjuk – Menjelang perayaan tahun baru Imlek, tempat ibadah umat Tri Dharma atau kelenteng selalu ramai dikunjungi peziarah. Seperti halnya Kelenteng Hok Yoe Kiong, yang terletak di tepi Jalan Raya Surabaya-Solo, Desa/Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur.

Sejak H-7 sebelum Imlek, ratusan peziarah sudah memadati rumah peribadatan ini. Mereka secara sukarela membersihkan ruangan, memandikan patung-patung dewa, dan memanjatkan doa khusus di kuil atau altar Hia Ong, si Raja Semut.

Siapa itu Raja Semut?

Menurut penuturan Teguh Susilo Saputro, ketua Kelenteng Hok Yoe Kiong, altar Raja Semut berwujud gundukan tanah pasir kering setinggi hampir dua meter dan diameter 1 meter. Posisinya tampak berdiri menyandar di sudut dinding utara ruangan.

Bentuknya sangat berbeda dengan 12 altar dewa-dewi yang ada di Klenteng Hok Yoe Kiong. Sebut saja Dewa Utama Kongco Kong Tik Tjoen Ong, Dewi Kwan Im, Budha Sakya Wuni, Khong Cu hingga Mahadewa Thai Sang Laocin. Raja Semut tidak lebih dari gundukan tanah yang diberi ornamen hiasan seperti kain kelambu, meja bejana lilin dan dupa, hingga selembar jubah merah, yang berfungsi untuk menutupi bagian atas gundukan berupa sarang atau rumah semut.

Disebut sarang semut, karena di dalamnya benar-benar terdapat ribuan ekor semut merah yang membangun koloni. Hewan-hwan kecil ini membentuk gundukan tanah yang terus meninggi dari tahun ke tahun. “Dalam istilah Tiongkok, namanya Hia Ong, alias Raja Semut,” ujar pria bernama Tionghoa The Se Tjoen ini.

Uniknya, ribuan ekor semut itu tidak bebas berkeliaran di sekitar sarang atau di lantai altar. Bahkan, mereka sangat misterius. Teguh menyebut sangat sulit tertangkap mata andaikata tidak membongkar isi gundukan tersebut. Dia yang sudah berpuluh-puluh tahun mengelola kelenteng pun, mengaku hanya beberapa kali saja, secara tidak sengaja melihat kemunculan semut-semut itu dari lubang sarang mereka. “Banyak yang meyakini, mereka (semut) hanya muncul di hari-hari tertentu, seperti hari ulang tahun Kongco atau waktu hari raya Waisak,” tutur Teguh.

Rumah semut di dalam kelenteng ini hanya ada satu-satunya di Indonesia. Tidak ada kelenteng lain yang memiliki altar serupa. Keberadaan rumah semut itu pula yang disebut Teguh telah melambungkan nama Kelenteng Hok Yoe Kiong ke seluruh nusantara. Sehingga sampai saat ini, sudah ribuan umat Tri Dharma dari luar kota hingga luar pulau singgah ke Nganjuk, hanya untuk berziarah sambil memanjatkan doa di depan altarnya. “Orang yang datang ke sini, pasti akan merasakan langsung aura dan berkahnya,” ujar pria yang sehari-hari mengelola toko di Jalan Ahmad Yani Nganjuk ini.

Menurut riwayat yang tercatat rapi di dokumen pengurus kelenteng, gundukan sarang semut sudah ada sejak tahun 1950, atau tiga tahun sebelum kelenteng dibangun pada tahun 1953. Saat itu, lahan di lokasi setempat masih berupa lahan tempat penyimpanan hasil pertanian milik warga Tionghoa Nganjuk, sekaligus perintis berdirinya Kelenteng Hok Yoe Kiong. “Ketika (kelenteng) dibangun, sarang semut itu tidak ikut digusur, tapi akhirnya malah dibikinkan altar sendiri,” ujar Teguh.

Rupanya, sejak awal para pendiri kelenteng sudah membaca tanda-tanda keistimewaan gundukan tanah tersebut. Mereka pun sampai sekarang rutin memanjatkan doa di depan altar semut, dan mengaku bisa langsung merasakan berkah rezeki melimpah dan kehidupan tentram sepanjang tahun. “Semua kalangan pernah singgah kemari, dari tentara, polisi, pejabat sampai rakyat jelata,” tutup Teguh.(ab)
Penulis : Panji Lanang Satriadin
Share on Google Plus

About matakamera.net

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment

Comments System