Duel Nasi Becek vs Pecel Godong Jati, Mana yang Juara?

Nganjuk
Nasi becek dan pecel daun jati, keduanya adalah kuliner populer di Kota Angin Nganjuk (foto imanniar via wordpress)
Matakamera, Nganjuk – Ada dua menu kuliner andalan di Kabupaten Nganjuk. Namanya juga sudah cukup populer di kalangan pecinta kuliner Jawa Timur, yaitu Nasi Becek Nganjuk dan Sego Pecel Godong Jati (SPGJ) Nganjuk. Kedua makanan khas yang sudah ada secara turun-temurun ini juga punya penggemar fanatik tersendiri. Merekapun bakal merasa kurang lengkap jika mengunjungi Nganjuk tanpa mencicipi rasanya. Lalu, mana di antara keduanya yang lebih unggul? Berikut ini ulasan dua penjelajah kuliner yang akan membeberkan menu andalan masing-masing. Ada diarysivika.com yang akan mengupas Nasi Becek Nganjuk dan dzofar.com yang akan membedah citarasa SPGJ Nganjuk.

Pertama, laman website pribadi diarysivika.com memulai dengan mengunjungi Nganjuk di suatu kesempatan, dan mendapat rekomendasi kuliner andalan Nasi becek Nganjuk. “Wah saya jadi ingat kata Cinta Laura Becek ngga ada ojek, eaaaaa “ tulis blogger perempuan ini.

Dia menyebut salah satu warung becek yang fenomenal yaitu Warung Pojok Bu Lastri yang terletak di Jalan Dr Soetomo. Untuk mudahnya, kata dia, setelah sampai Alun-Alun Nganjuk tanyalah kepada penduduk karena warung ini tak jauh dari alun-alun tersebut. Warung berwarna dominan hijau yang sangat sederhana. Diarysivika.com lalu memesan seporsi Nasi becek dengan 10 tusuk sate kambing. Rupanya, nasi becek merupakan nasi dengan kuah soto namun terdiri dari daging kambing dengan sambal kacang yang bagian atas nasinya terdiri dari irisan kubis, kecambah dan seledri. Untuk rasanya hampir mirip dengan kuah soto yang dicampur dengan gulai kambing, meski terasa asing namun terasa match dan unik. Pelengkapnya adalah sate kambing yang empuk dan tidak terasa prengus. Untuk harga saya lupa persisnya karena saya bersama tiga orang yang memesan 3 nasi becek, 30 sate kambing dan es teh totalnya adalah Rp 110.000.

Berikutnya, giliran blogger dzofar.com yang membahas petulangan kuliner Nasi Pecel Godong Jati Mbok Jimur yang ada di Desa Tiripan, Kecamatan berbek, Kabupaten Nganjuk. Warungnya disebut buka 24 jam. Ketika tidak ada pembeli, Mbok Jinem si pemilik warung akan tidur. Tetapi ketika ada yang datang, dan mengetuk pintu, Mbok Jimur pasti bangun dan langsung memasak pecel untuk pembeli.

Menu utamanya hanya sambel pecel, daun kulupan, dan tempe yang masih mentah. Sensasinya selain berada di pelosok pedesaan, warung juga menyediakan air minum kendi secara gratis. “Buat yang ngirit, cukup bawa duit Rp 5 ribu buat makan nasi pecel bungkus godhong jati sudah bisa makan, sama minum air putih dari kendi!” ulasnya.

Soal rasa, dzofar.com juga menyebut sangat enak. Pedas sambelnya tidak berlebihan, sementara gurihnya banget campur rasa manis. Dengan dibungkus daun jati, aroma daun jati disebutnya membuat nasi rasa pecelnya semakin eksotis. “Sedep-sedep klasik gimana gitu,” ulasnya. Untuk menambah kenyang, dzofar.com juga bisa meminta lauk tempe yang masih panas dari penggorengan.

Menurut informasi yang dihimpun matakamera.net, kuliner nasi becek dan pecel daun jati ini sebenarnya juga populer di beberapa daerah sekitar Nganjuk, mulai Madiun, Bojonegoro, sampai ke daerah Blora, Jawa Tengah. Terutama nasi pecel berpiring daun jati, karena daerah-daerah yang disebut banyak terdapat hutan jati, sehingga bahan bakunya melimpah. Jadi, mana yang lebih juara? Silahkan pembaca menilai (ab/foto : imanniar.wordpress.com)
Share on Google Plus

About Matakamera

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment

Comments System

Disqus Shortname