Ini Kisah Polisi Perintis Sekolah Luar Biasa di Nganjuk

baron
Iptu Oyok saat masih berpangkat Ipda, di masa awal merintis SLB di Patianrowo, Nganjuk, Jawa Timur 
matakamera, Nganjuk - Inspektur Polisi  Satu (Iptu) Oyok Suwarno sehari-hari kini menjabat Wakil Kepala Kantor Kepolisian Sektor Baron, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Di sela kesibukannya itu, pria 50 tahun itu sesekali meluangkan waktu berkomunikasi dengan ponsel pribadinya. Bukan teman atau keluarga di rumah yang ditelefon, melainkan karyawan atau guru Sekolah Luar Biasa (SLB) Dharma Bakti di Desa/Kecamatan Patianrowo. Kepada lawan bicara yang sudah dikenal baik itu Ipda Oyok membicarakan banyak hal. Mulai dari kabar para siswa, hingga bertanya apakah ada masalah dalam kegiatan belajar-mengajar sepanjang hari itu.”Kalau punya waktu luang lebih, saya biasanya datang langsung ke SLB,” ujar pria kelahiran Trenggalek, 26 Desember 1964 ini.

Iptu Oyok mencurahkan perhatiannya untuk sekolah anak berkebutuhan khusus tersebut (ABK). Bahkan hampir setiap hari dia menyempatkan diri mengontrol dan mengawasi kegiatan belajar di SLB Dharma Bakti. Rupanya, polisi ini memang punya ikatan kuat dengan sejarah berdirinya sekolah khusus itu. “Tahun ajaran ini (2015/2016), siswanya sudah berjumlah 60 anak,” sebut suami dari Endah Retno Kartikawati ini.

Polisi
Suasana saat Iptu Oyok ikut mengajar di kelas anak didik SLB yang dirintisnya
Pria berkumis tebal ini tidak sekadar tahu seluk-beluk SLB Dharma Bhakti. Tetapi, dia ternyata terlibat langsung saat awal sekolah ini dirintis delapan tahun silam. Saat itu awal Mei 2006, Iptu Oyok masih berdinas di Polsek Patianrowo dan mulai berteman dengan Almarhum Abi Santoso, guru SLB asal Sidoarjo yang menetap di Patianrowo. Keakraban mereka cepat terjalin, karena sama-sama memiliki kepedulian tinggi terhadap masalah-masalah sosial di sekitar mereka. Sampai suatu hari, mereka mendapati fakta bahwa banyak anak berkebutuhan khusus di Patianrowo dan sekitarnya yang tidak bisa menikmati pendidikan seperti anak normal. “Bahkan sering dijumpai ABK berkeliaran di jalan. Mereka tidak sekolah,” kenang Iptu Oyok.

Saat itu, ABK memang sulit masuk sekolah reguler. Ditambah lagi, pihak keluarga masih banyak yang menganggapnya sebagai aib. Seketika itu hati Almarhum Abi dan Oyok tersentuh, hingga kemudian tercetus ide mendirikan SLB pertama di kawasan timur Nganjuk. Dalam waktu singkat, dengan menghimpun beberapa teman dari berbagai profesi, mereka kemudian mendirikan Yayasan Dharma Bakti Sejahtera yang membidani berdirinya SLB Dharma Bakti pada 30 Mei 2006.

Perjuangan awal mendirikan SLB tidaklah mudah. Iptu Oyok dan Almarhum Abi sampai harus mendatangi rumah-rumah warga yang memiliki anggota anak ABK. Usahanya diawali dengan membuka pemahaman masyarakat setempat, bahwa anak-anak ini juga berhak mengenyam bangku pendidikan. Bahkan, mereka juga bisa berprestasi layaknya anak-anak sekolah umum. Upaya blusukan yang dilakukan hampir setiap hari itupun membuahkan hasil, karena masing-masing oragtua ABK mulai mendaftarkan anak mereka satu per satu. “Angkata pertama saat itu, ada 22 siswa. Tenaga pengajarnya ada 6 orang,” kenang ayah dari Ivonie Happy Tansia, 21, Duartika Anindhalia, 16, dan Ocha Tirzela,7, ini.

Sampai tahap ini, meskipun aktivitas belajar sudah berjalan, namun sekolah ini ternyata belum memiliki gedung sendiri. Mereka masih harus mengontrak bangunan rumah bekas tempat praktik bidan, di Desa/Kecamatan Patianrowo. Lokasinya berjarak sekitar 500 meter di utara Pabrik Gula (PG) Lestari. “Sampai sekarang masih mengontrak. Kami baru mulai membangun gedung sendiri tahun ini,” lanjut Oyok.

Selama delapan tahun SLB berdiri, Oyok sering terlibat langsung aktivitas di dalam kelas. Di sela tugas rutinnya sebagai polisi, dia selalu meluangkan waktu untuk bertemu langsung dengan anak-anak didiknya. Keakraban itu diakui Oyok menghapus jarak antara dirinya sebagai polisi dengan para siswa ABK. Bahkan, Oyok pernah mendengar sendiri salah satu siswa SDLB laki-laki berucap lantang, bahwa dia bercita-cita menjadi polisi seperti dirinya. “Saya langsung terharu mendengarnya,” imbuh Oyok.

Sejak meninggalnya Abi Santoso pada 2013 lalu, Iptu Oyok mengaku sempat turun semangatnya. Namun beruntung masih ada sosok istri alamarhum, Nunik Ismaniasita, yang ternyata mewarisi semangat sang suami. Bahu-membahu dengan Oyok, Nunik membesarkan sekolah hingga kini memiliki 60 siswa dan 21 tenaga pendidik, dua di antaranya sudah berstatus PNS. Nunik kini memegang jabatan Kepala SLB Dharma Bakti, sementara Oyok terus mendukung pengembangan sekolah secara aktif di samping jabatannya sebagai wakapolsek. Siswa yang mendaftar juga sudah menyebar dari sekitar Patianrowo, Jatikalen, Lengkong, hingga Kecamatan Bandarkedungmulyo di Kabupaten Jombang.(ab)





Share on Google Plus

About Matakamera

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment

Comments System

Disqus Shortname