Kurang Dikenal, Bagaimana Peluang Wajah-Wajah Baru di Pilkada Nganjuk?

nganjuk
Sejak awal tahun 2017 ada sejumlah nama yang mulai memperkenalkan diri di tengah masyarakat Nganjuk. Mereka antara lain Desy Natalia Widya, M. Suryo Alam, Bimantoro Wiyono, dan Pringgo Digdo Jati (matakamera.net/2017)
Senin 27 Maret 2017 || by Panji Lanang Satriadin

matakamera, Nganjuk - Pemilihan Bupati-Wakil Bupati (Pilbup) Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, dijadwalkan berlangsung pada Juni 2018. Aroma kontestasi para bakal calon yang akan bertarung pun mulai semerbak. Beberapa nama, baik yang sudah dikenal masyarakat maupun wajah baru, saat ini mulai pamer muka.

Ahmad Hasan Ubaid, koordinator peneliti pada lembaga survei politik ‘Terukur’ mengatakan, medan pertempuran dalam Pilbup atau Pilkada Nganjuk mendatang cenderung lebih rata. Hal ini karena petahana Bupati Taufiqurrahman sudah tidak bisa lagi mencalonkan diri, setelah habis masa jabatannya pada 28 April 2018.

Karena itu, menurut Ahmad Hasan, masing-masing calon nanti bisa saja berpeluang sama untuk menang. Namun, Hasan memberi catatan khusus untuk wajah-wajah baru, yang relatif belum dikenal luas oleh masyarakat Nganjuk. “Butuh kerja keras untuk melakukan sosialisasi, bukan asal pencitraan,” kata pria yang juga dosen Ilmu Politik Universitas Brawijaya Malang tersebut.

Sejak Januari sampai Maret 2017 ini, matakamera.net mencatat beberapa wajah baru yang mulai bersosialisasi, meskipun belum blak-blakan mendeklarasikan diri maju Pilkada Nganjuk. Antara lain Desy Natalia Widya seorang wanita berlatar profesional perbankan, M.Suryo Alam yang anggota DPR-RI, Bimantoro Wiyono putra dari Anggota DPR-RI Sareh Wiyono, dan seorang pengusaha bernama Pringgo Digdo Jati. Mereka sebelumnya lebih banyak bekerja di luar kota, sehingga kurang populer di tengah masyarakat Nganjuk.

Ahmad Hasan menjelaskan, sosialisasi dini bisa efektif asal tidak sekadar simbolis. Bentuk-bentuk seperti penyebaran kalender, atau nunut tampil di atas panggung, mungkin bisa membuat wajah lebih dikenal. Namun, tidak memberi nilai tambah yang membuat masyarakat terkesan.

Menurut pengamatannya, saat ini ada pergeseran tren Pilkada jika dibandingkan 5 atau 10 tahun yang lalu. Pola transaksional atau bagi-bagi duit disebut Hasan sudah tidak laku. Sebagai gantinya, Hasan menyebut ada dua kriteria yang harus dipertontonkan kandidat kepada masyarakat, baik itu dalam masa perkenalan awal, maupun saat kampanye resmi nanti. “Yang pertama, tunjukkan kesan merakyat, sesering mungkin berada di tengah masyarakat. Lalu kedua, tunjukkan track record bersih. Dalam artian bebas korupsi dan tindak pidana berat lainnya,” ujar Hasan.

Tren ini disebut Hasan berlaku di semua jenjang pilkada, baik kabupaten, kota, provinsi, maupun dalam pemilihan presiden. ”Jadi bukan hanya untuk masyarakat kota besar, bahkan masyarakat pedesaan pun saat ini menginginkan hal yang sama,” pungkasnya.(ab/2017)  


Lihat : Profil Redaksi MATAKAMERA.NET Nganjuk


Share on Google Plus

About Matakamera

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment

Comments System

Disqus Shortname