Caleg Identitas

Jumat 4 Januari 2019



oleh : Rosihan*


Sebentar lagi kita akan melaksanakan pesta demokrasi. Kali ini tentu lebih semarak, karena akan dilakukan serentak antara pilpres dan pileg.

Persoalannya, dengan banyaknya orang yang harus dipilih oleh masyarakat, tentu memerlukan sosialisasi tersendiri bagi peserta kontestasi pemilu. Kalau tidak, akan menyulitkan bagi para pemilih dalam menyoblos pilihannya.

Selain itu, ada satu lagi persoalan yang paling mendasar yang dihadapi oleh para kontestan, khususnya pada kontestan pileg baik tingkat pusat maupun tingkat daerah.

Yaitu, bagaimana cara menggiring pikiran masyarakat agar mau memberikan suara kepada caleg tersebut.

Hal ini tentu tidak mudah, karena kadang tidak disadari oleh para caleg, bahwa perubahan dunia begitu cepat.


Perdagangan bebas antar negara sudah merajalela. Malahan, sudah pada tingkat perang dagang.

Dampaknya adalah persoalan masyarakat menjadi samgat serius pada beberapa bidang. Kalau persoalan tersebut tidak tersentuh, maka sulit pagi para caleg tersebut dapat mendulang suara sesuai harapannya.

Satu isu penting yang menjadi persoalan masyarakat dan membutuhkan penanganan serius dari beberapa pihak, yaitu kebijakan pemerintah dalam bidang ekonomi yang terkait dengan serapan tenaga kerja, kesenjangan sosial dan harga sembako.

Apabila para caleg mampu membuat program ekonomi untuk mengatasi persoalan tersebut, maka harapan besar akan sukses mendulang suara.

Tetapi jika sang caleg masih bermain dengan pola lama, yaitu pada tataran kampanye identitas, maka segala dana, tenaga dan pikiran yang dikeluarkan akan sia-sia belaka.

Sayangnya, sampai hari ini para caleg masih saja bermain pada ranah identitas tersebut. Sehingga, yang muncul jargonnya sangat tidak signifikan dengan perkembangan zaman dan kebutuhan masyarakat.

Ambil saja contoh kampanye dengan label identitas yang masih sering terjadi. Mereka melabelkan dirinya dengan kata jujur, amanah ,muslim, haji, pedagang, mantan birokrat, politikus dan lain-lain.

Semua itu adalah identitas dan pencitraan. Saat ini identitas tersebut tidak lagi dibutuhkan tetapi yang urgen dibutuhkan adalah caleg yang punya kompetensi dalam membantu menyelesaikan persoalan masyarakat.

Itu hanya bisa dilihat dari program dan rencana kerja yang dikukan jika nantinya terpilih menjadi wakil rakyat. Sementara identitas yang digembar-gemborkan hanya milik pribadi yang tidak berdampak apa-apa bagi masyarakat.

Selamat berkontestasi untuk para caleg. semoga sukses.

*penulis adalah pendidik dan pemerhati politik, tinggal di Batu, Jawa Timur
Share on Google Plus

About Matakamera

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment

Comments System

Disqus Shortname