Jadikan Nganjuk sebagai Kota Madani


matakamera
Andik Handoko (dok.pribadi)
Jumat 17 November 2017

Opini Pembaca
Oleh : Andik Handoko

Setiap pulau di Indonesia menawarkan keindahan alam yang akan membuat setiap orang terpukau dan terkesan. Dari Sabang sampai Merauke telah memanjakan mata kita dan di situlah muncul apa itu arti dari keindahan alam Indonesia. Berawal dari Kecantikan burung cenderawasih yang menarik perhatian siapapun yang melihatnya, hingga suara auman harimau di Sumatera dan Kalimantan yang selalu membuat bulu kuduk kita merinding karena ketakutan. Belum lagi jika kita mengenal dan sejenak bersantai di Kota Madani. Nah.. Apa itu Kota Madani???

Kota Madani yang nyaman, bersih, indah, aman, tentram menjadi idaman setiap masyarakat di kota manapun, hal yang sama diidamkan oleh masyarakat Kota Nganjuk saat ini. Di mana kota lain dan kota tetangga dalam kurun waktu kurang lebih sepuluh tahun terakhir ini sudah berupaya untuk penataan kotanya lebih baik, namun hampir kurang lebih 20 tahun terakhir Kota Nganjuk yang kita cintai ini hanya bisa jalan di tempat. Perkembangan kota yang begitu lambat, pembangunan dari berbagai aspek yang amat monoton untuk dilihat dan tak bisa memanjakan mata kita sepenuhnya, serta acap kali ingin memperbaiki insfrastruktur kotanya, namun itu pun tak terarah. 

Konsep perkembangan kota yang saat ini tidak jelas, perbaikan jalan sering kali dilakukan, namun belum menuai target jalan sudah hancur lebur lagi. Bahkan mayoritas warganya bisa mengatakan kalau ”Nganjukku kok ngono-ngono ae, dalane kabeh kok do rusak, wisatane kok pancet ae, bal-balane barang kok yo ora diopeni (stadion nganti koyok ngono).” Apa yang harus kita kenalkan untuk Nganjuk dewasa ini, jika tanpa perubahan sama sekali? Apakah wisatanya, pembangunan atau penataan kota, perbaikan jalan, ekonomi masyarakat, fasilitas olahraga atau bahkan prestasi sepak bola dari Persenga Nganjuk? Jawabnya, semua belum bisa untuk kita pamerkan sepenuhnya. Terus? Sampai kapan harapan dan keinginan warga Nganjuk bisa terwujud? Bisa melihat Nganjuk sebagai Kota Madani di Indonesia, sebagai kota adipura yang sesungguhnya, bahkan sebagai kota yang pantas diprioritaskan dan dihargai karena prestasi sepak bolanya? Karena yang kita tahu, bahwa dewasa ini sepak bola merupakan suatu industri besar menjanjikan, yang setidaknya dan secara tidak langsung bisa membantu pertumbuhan ekonomi masyarakatnya, dan itu amat disayangkan jika sepak bola Nganjuk selalu tanpa perhatian dari pemerintah nantinya.

Debu, gronjalan jalan berlubang, dan asap kendaraan bermotor merupakan 'makanan' sehari-hari masyarakat bumi Anjuk Ladang, yakni di Kota Nganjuk ini. Tak hanya memengaruhi saluran pernapasan, lingkungan berpolusi seperti itu juga akan berdampak pada kondisi kulit ataupun faktor kesehatan lainnya. Kota Nganjuk saat ini berkembang menjadi kota yang padat akan lalu lintas dan sangat panas suhu udaranya. Kendaraan roda empat dan roda dua yang tumbuh, belum diatur dengan baik. Kemacetan tejadi bukan karena Nganjuk sebagai tujuan transit wisata seperti dulu kala, justru kemacetan itu terjadi karena setiap kendaraan yang melintasi area jalan di Kabupaten Nganjuk, memaksa driver harus bersabar atau kurangi kecepatan dikarenakan kondisi jalan di wilayah Nganjuk yang hampir 50% rusak berat. 

Hal itu sudah sering kali mengakibatkan pengguna jalan sampai mengalami kecelakaan, akibat lubang jalan yang selalu kita jumpai di berbagai sudut pemandangan kota ini. Mungkin, hal seperti ini dapat diselesaikan dengan cara perbaikan kedisiplinan untuk pengendara, dengan diawasi oleh aturan dan pengontrol lalu lintas (Polantas maupun DLLAJ). Namun, harus diimbangi oleh perbaikan dan pemulusan jalan raya sewilayah Nganjuk, yang mana itu menjadi harapan yang segera diharuskan dari masyarakat semua, dan pastinya harus sesuai dengan rancangan pembanguan insfrastruktur jalan kota yang baik dan sesuai dengan target penataan kota. ”Ojo disalah gunakne maneh yo”.

Kota Nganjuk Kita

Sejatinya, pembangunan dan kemajuan kota dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat, baik itu pribumi dan pendatang serta seluruh etnis, yang terdiri dari agama, budaya, kelas sosial dan aneka ragam lainnya yang mewarnai dan tinggal di kota itu. Semua harus mendapatkan bingkisan kemajuan secara berkeadilan sesuai dengan porsi dan kapasitas masing-masing. Semua harus dapat ikut berbahagia sebagai limpahan dari pertumbuhan ekonomi.

Konsep pembangunan Kota Nganjuk berkelanjutan yang senantiasa didengungkan, yang didasarkan kepada kebersamaan, kebebasan, kesetaraan, harga diri dan keadilan sosial dapat diwujudkan secara nyata di lapangan. Secara global hal ini juga turut dirisaukan oleh warga dunia, yang kemudian dimasukkan dalam ”The New Urban Agenda” pada konferensi pers dari Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) ketiga tentang Perumahan dan Perkotaan Berkelanjutan (Habitat III), yang telah berlangsung di Quito, Ekuador, pada tanggal 17 - 20 Oktober 2016. Prinsip utama dalam agenda baru pembangunan kota tersebut adalah ”KOTA MILIK KITA SEMUA” mulai dari rakyat miskin terpinggirkan (buruh bangunan, PKL, tukang ojek, sopir bangunan, pembantu rumah tangga), imigran, hingga PNS, Polri/TNI, pengusaha, elit politik, dan pejabat.

Termasuk juga akses warga terpinggirkan ke ruang publik, peluang pekerjaan, pendanaan dan finansial, dan fasilitas umum. Seluruh warga kota (kaya-miskin, tua-muda, warna kulit, golongan, ras, kelas, budaya dan agama), harus mempunyai hak dan keadilan dalam mengatur tata ruang kota dan tata lingkungan kota maupun pedesaan. Seluruh masyarakat, khususnya kalangan menengah ke bawah dan terpinggirkan dapat diberdayakan di dalam pengelolaan dan penataan kota. Keikutsertaan masyarakat secara aktif di dalam pengelolaan dan penataan kota terbukti justru dapat meningkatkan kualitas hidup (dampak sosial budaya dan ekonomi) masyarakat kota dan sekaligus pelestarian lingkungan.

Hal ini dapat diperhatikan di dalam pembangunan kampung/desa di seluruh tanah air (sebagai contoh, penerima penghargaan Kampung/Desa Maju di Indonesia tahun 2016 silam; Desa Tamansari di Banyuwangi, Jawa Timur, sebagai desa wisata terbaik kategori jejaring bisnis, Desa Pujon Kidul di Malang, Jawa Timur, sebagai desa wisata terbaik kategori agro, Desa Seigentung, Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, sebagai desa wisata terbaik kategori ilmu pengetahuan dan teknologi, Desa Ubud di Gianyar, Bali sebagai desa wisata terbaik kategori budaya, Desa Waturaka di Ende, Nusa Tenggara Timur sebagai desa wisata terbaik kategori alam, Desa Ponggok Klaten, Jawa Tengah, sebagai desa terbaik pemberdayaan masyarakat, serta Desa Teluk Meranti Pelalawan, Riau, sebagai desa wisata kategori masyarakat kreatif), yang kini banyak dijadikan acuan sebagai rujukan dan contoh di dalam penataan kota di Indonesia. Prinsip utamanya adalah pemberdayaan masyarakat. Menata bukan menggusur. Membina bukan membinasakan.

Kita semua berharap, semoga bupati dan wakil bupati Nganjuk terpilih (2018-2023) dapat untuk merealisasikan ”Nganjuk sebagai Kota Madani,” sebagaimana yang telah diamanatkan dalam Konferensi Habitat III, yang bertajuk ”The New Urban Agenda” untuk 10 tahun ke depan (2018-2028) di dalam pembangunan kota berkelanjutan di Nganjuk. Kota adalah milik kita semua. Setiap warga Nganjuk harus bangga dan merasa memiliki kotanya. (*/nw)
Share on Google Plus

About Matakamera

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment

Comments System

Disqus Shortname