Semantok Bakal Jadi Bendungan Terpanjang se-Asia Tenggara, Tapi Bikin Pemkab Nganjuk Galau

Gambar lokasi megaproyek Bendungan Semantok dilihat dari udara, pada 30 Juni 2019 (foto : Brantas Abipraya)

Jumat 19 Juli 2019
by Panji LS

matakamera, Nganjuk - Wakil Bupati Nganjuk Marhaen Djumadi menunjukkan kegalauannya, melihat perkembangan megaproyek nasional Bendungan Semantok.

Marhaen menilai proses pembangunannya berjalan sangat lambat. Sampai-sampai, dia mewakili
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nganjuk harus curhat ke pemerintah pusat.

Pada Kamis 18 Juli 2019 lalu, Wabup Marhaen mengajak beberapa anggota DPRD Nganjuk untuk berkonsultasi dan bernegosiasi Dirjen Planologi Kementrian Lingkungan Hidup, Prof. Dr. Sigit, terkait permasalahan ini.

Menurut Marhaen, berdasarkan pengamatan Pemkab Nganjuk, proses pembangunan Bendungan atau Waduk Semantok baru mencapai sekitar 8 persen dari total seluruh pembangunan. Padahal, prosesnya sudah dimulai sejak dua tahun yang lalu.

Dia seperti bertambah galau ketika mengingat-ingat target awal proyek ini, yang sesuai rencana bakal menjadi bendungan terpanjang se-Asia Tenggara, dan harus selesai pada tahun 2021 mendatang. Lebih-lebih, Bendungan Semantok nantinya juga direncanakan akan diresmikan langsung oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi).

"Kami mengerti selama proses pembangunan ini pasti banyak masalah dan kendala, sehingga proses pembangunannya berjalan lambat. Tetapi harus tetap diupayakan, pembangunan mega proyek ini selesai sesuai rencana,” ujar Marhen.

Jika ingin tahun 2021 harus selesai, lanjut Marhaen, maka mulai sekarang pembangunan harus dipercepat.

"Kami yang di daerah perlu mendesak pemerintah pusat agar mempercepat pembangunannya. Karena proyek ini merupakan proyek pemerintah pusat,” tukas Marhaen.

Untuk diketahui, Bendungan Semantok berlokasi di wilayah Desa Tritik dan Desa Sambikerep, Kecamatan Rejoso.

Area bendungan memiliki luas lebih dari 700 hektare. Biaya pembangunannya berasal dari APBN senilai hampir Rp 2 Triliun. Bendungan ini diproyeksikan mempu mengairi lahan pertanian sekitar 1.554 hektare, dengan kapasitas 17.630 meter kubik, serta mampu menghasilkan tenaga listrik 1,01MW.


(ds/ab/2019)
Share on Google Plus

About Matakamera

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

1 komentar:

  1. Kalau kegiatan proyek ingin segera dikebut sebaiknya Pemkab Nganjuk juga segera merelokasi warga yang berada di area proyek..ini baru namanya konsekwensi langkah konkrit.

    ReplyDelete

Comments System

Disqus Shortname