Bukan Pawai Boyong, Hari Jadi Nganjuk Harusnya Diperingati dengan Manusuk Sima

Aktivis Kotasejuk melakukan reka ulang Upacara Manusuk Sima di kompleks Candi Lor Nganjuk, Sabtu 10 April 2021
Ahad 11 April 2021

matakamera, Nganjuk - 10 April selalu diperingati sebagai Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Nganjuk. Tahun ini memasuki usia ke-1084, merujuk pada peristiwa sejarah Candi Lor di Desa Candirejo, Kecamatan Loceret, zaman Mataram Kuno 10 April 937 masehi.

Sukadi, peneliti sejarah dari Komunitas Pecinta Sejarah Nganjuk (Kotasejuk) mengatakan, penyebutan HUT Kabupaten Nganjuk sebenarnya kurang tepat.

"Pasnya ya Hari Jadi Nganjuk. Karena pada waktu itu (10 April 937) tidak ada yang namanya kabupaten. Kabupaten Nganjuk itu baru ada dan berdiri 1 Januari 1929," ujar Sukadi.

Lebih dari itu, Sukadi dan rekan-rekannya di Kotasejuk juga menyoroti bentuk visual peringatan Hari Jadi Nganjuk, yang disebutnya terdapat kekeliruan fatal.

Untuk diketahui, selama puluhan tahun, Pemkab Nganjuk selalu merayakan Hari Jadi Nganjuk dengan Pawai Alegoris Boyong, dari Pendopo Berbek ke Pendopo Nganjuk.

"Tidak ada hubungan sama sekali antara tradisi boyong Berbek-Nganjuk dengan peringatan Hari Jadi Nganjuk. Keduanya adalah peristiwa besar dan bersejarah di Nganjuk, tetapi memiliki makna dan masa yang jauh berbeda," urai Sukadi.

Ia menjelaskan, HUT Nganjuk mengacu pada isi Prasasti Anjukladang 10 April 937 masehi. Terjadinya di masa Raja Mpu Sindok, kerajaan Mataram Medang.

Sedangkan peristiwa boyong, disebut Sukadi merupakan perpindahan pemerintahan Kabupaten Berbek ke Kota Nganjuk, pada 6 Juni 1880. Itu terjadi di era kolonial Belanda.

"Jadi beda waktunya hampir seribu tahun," imbuh Sukadi.

Sebagai bentuk kritik sekaligus sindiran, Sukadi bersama puluhan aktivis Kotasejuk menggelar seremoni tandingan pada Sabtu, 10 April 2021.

Bukan pawai boyong, melainkan ritual Manusuk Sima di kompleks Candi Lor, Desa Candirejo, Kecamatan Loceret.

Upacara Manusuk Sima diawali dari pintu gapura Candi Lor menuju barat candi, diikuti sekitar 25 orang. Masing-masing memperagakan tokoh yang terlibat dalam sejarah penetapan Sima Anjukladang.

Posisi paling depan adalah seorang Makudur, pemimpin upacara Manusuk Sima, yang berjalan membawa dupa diikuti Mpu Sindok dan dua istrinya, Dyah Kebi dan Dyah Mangibil.

Menyusul di belakangnya dua orang Mahapatih, Mpu Sahasra dan Mpu Baliswara. Kemudian berturut-turut k
Kanuruhan Mpu Da, Zamgat Mpu Anjukladang. Di belakangnya lagi ada para prajurit Medang, Kepala Desa Tepisiring, dan rakyat Anjukladang.

“Nama-nama tokoh itu sesuai nama dan jabatan dalam Prasasti Candi Lor,” terang Sukadi.

Sesampainya di depan prasasti, pemeran Sang Makudur mulai memimpin Upacara Manusuk Sima. Sedangkan para undangan turut menjadi saksi hingga prosesi usai.

Makudur lalu mulai membaca mantera dengan memecah telur di bawah prasasti. Sambil membaca sapatha atau sumpah yang ditujukan kepada siapa saja yang berusaha melanggar sumpah yang sudah ditetapkan, maka mereka akan mendapat kutukan dewa dan malapetaka.

Berdasarkan isi prasasti penetapan sima, selalu diakhiri dengan perayaan, pesta makan dan minum.

Menurut Sukadi, Upacara Manusuk Sima merupakan ruh dari prosesi penetapan Sima. Di mana sebelumnya dilakukan pemberian hadiah berupa uang emas atau perak, dan kain kepada semua yang hadir, turut menjadi saksi.

Rudy Handoko, pemerhati sejarah Nganjuk menambahkan, HUT Nganjuk dengan boyong adalah suatu peristiwa sejarah yang berbeda. Sehingga, setiap tanggal 10 April seharusnya seremoni dipusatkan di Candi Lor, bukan di Berbek.

“Jadi yang benar itu ya di Candi Lor, karena mengacu pada isi prasasti candilor memang isinya seperti itu,” jelas Rudy.

Untuk diketahui, dalam reka ulang Upacara Manusuk Sima tersebut selain dilakukan oleh Kotasejuk, juga didukung oleh Forum Pemuda Bintang Nganjuk dan beberapa seniman.

(skd/nji)
Share on Google Plus

About Matakamera

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment

Comments System

Disqus Shortname