![]() |
| Ilustrasi salah satu menu MBG di suatu wilayah (ist) |
Program MBG juga digagas sebagai respons terhadap permasalahan gizi buruk dan malnutrisi yang masih menjadi tantangan serius kesehatan masyarakat di Indonesia.
Selain itu, program ini sekaligus sebagai fondasi pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) unggul dalam rangka mewujudkan visi Indonesia Emas pada 2045 mendatang.
Dalam skala nasional, MBG tengah menargetkan hingga 82,9 juta penerima manfaat dengan dukungan anggaran sebesar Rp171 triliun yang dikelola oleh Badan Gizi Nasional.
Skala program yang sangat besar ini menjadikan MBG sebagai salah satu intervensi pangan dan gizi terbesar dalam sejarah kebijakan sosial Indonesia.
Tak hanya itu, manfaat utama MBG paling nyata terlihat pada perbaikan status gizi fisik peserta didik.
Berdasarkan jurnal penelitian oleh Dede Zainudin, dosen Universitas Indraprasta PGRI, manfaat utama MBG memang paling nyata terlihat pada perbaikan status gizi fisik peserta didik.
“Program Makan Bergizi Gratis terbukti mampu meningkatkan stamina, daya tahan tubuh, serta menurunkan frekuensi sakit pada peserta didik. Ini menunjukkan bahwa intervensi gizi melalui MBG berjalan efektif,” tulis Dede Zainudin dalam hasil penelitiannya.
Hal ini juga sejalan dengan temuan dalam jurnal nutrisi Indonesia yang menyebutkan bahwa program makanan bergizi berhubungan positif dengan fungsi kognitif siswa sekolah dasar.
Nutrisi yang lebih seimbang terbukti mendukung kerja otak, khususnya dalam hal perhatian, daya ingat, dan kemampuan memahami materi pelajaran.
Dengan demikian, MBG tidak hanya berperan sebagai intervensi kesehatan, tetapi juga sebagai instrumen pendukung proses pembelajaran di sekolah.
Efektivitas MBG sangat dipengaruhi oleh kualitas dan komposisi menu makanan yang disajikan.
Selain itu, kualitas menu sangat menentukan dampak program MBG. Menu yang dirancang dengan komposisi seimbang mampu memenuhi kebutuhan energi dan zat gizi mikro peserta didik, demikian disimpulkan dalam studi tersebut.
MBG tidak hanya berfokus pada pemberian makanan, tetapi juga mengintegrasikan edukasi pola makan sehat dalam pelaksanaannya di sekolah.
Edukasi gizi ini bertujuan meningkatkan literasi gizi peserta didik serta menanamkan kebiasaan hidup sehat sejak usia dini.
Program MBG juga tidak hanya sekadar memberi makanan, tetapi juga membangun pemahaman siswa tentang pentingnya pola makan sehat, sebagaimana tertulis dalam panduan pelaksanaan MBG di sekolah.
Dari sisi pendidikan, berbagai penelitian akademik menyimpulkan bahwa perbaikan status gizi berimplikasi pada peningkatan kehadiran dan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran.
Siswa yang mendapatkan asupan gizi cukup cenderung lebih aktif, jarang absen, dan lebih siap mengikuti kegiatan belajar mengajar.
Walaupun prestasi akademik dipengaruhi oleh banyak faktor lain seperti lingkungan keluarga dan kualitas sekolah, bukti empiris tetap menunjukkan adanya hubungan positif antara nutrisi yang memadai dan performa akademik.
Meski menunjukkan banyak manfaat, evaluasi ilmiah juga mengungkap bahwa dampak MBG terhadap aspek pembelajaran seperti konsentrasi dan kehadiran tidak selalu seragam.
Keberhasilan MBG ke depan sangat ditentukan oleh konsistensi implementasi dan kolaborasi semua pihak, menjadi catatan penting dalam evaluasi program.
Namun, agar dampaknya optimal dan berkelanjutan, diperlukan evaluasi berkelanjutan, peningkatan kualitas implementasi, serta integrasi dukungan dari keluarga dan lingkungan sekolah.
Her/Pas/2026

0 komentar:
Posting Komentar