Dr WP Djatmiko: Dr Marhaen Djumadi dan Perbincangan tentang Figur Integrator, Menatap Jatim 2029

Foto kiri: Tokoh publik Jatim Dr Wahju Prijo Djatmiko bersama Bupati Nganjuk Marhaen Djumadi. Foto kanan: Konsultan pada City Tower Jakarta, Anfal Mutiara SH.
Kamis 27 Agustus 2026

SURABAYA, matakamera.net - Pilgub Jawa Timur 2029 memang masih jauh. Namun, politik tidak pernah benar-benar menunggu tahun pemilihan. Nama-nama mulai diperbincangkan, partai mulai membaca peta kekuatan, dan publik perlahan mulai mengamati dan mencari figur yang dianggap mampu membawa Jawa Timur memasuki era baru.

Tetapi pertanyaan terpentingnya bukan sekadar siapa yang paling populer atau siapa yang paling kuat secara politik. Pertanyaannya adalah Jawa Timur seperti apa yang akan dibangun gubernur setelah 2029, dan pemimpin seperti apa yang mampu mengelolanya?

Jawa Timur sedang bergerak menuju perubahan besar. Industrialisasi, hilirisasi, investasi, transformasi digital dan perubahan demografi berjalan bersamaan dengan kuatnya tradisi pesantren, organisasi keagamaan, jaringan ekonomi lokal dan struktur sosial yang telah mengakar puluhan tahun.

Karena itu, Jawa Timur membutuhkan figur yang bukan hanya mampu memenangkan kontestasi politik, tetapi juga mampu mengintegrasikan berbagai kekuatan yang terkadang berbeda kepentingan.

Tokoh publik Jawa Timur sekaligus Direktur LKHPI, Dr. Wahju Prijo Djatmiko, melihat kemampuan tersebut sebagai salah satu karakter penting yang perlu dimiliki calon pemimpin Jawa Timur pasca 2029.

“Jawa Timur terlalu kompleks untuk dipimpin hanya dengan satu pendekatan politik. Gubernur ke depan harus mampu membangun komunikasi dengan berbagai kelompok dan menjadikan perbedaan sebagai kekuatan pembangunan. Saya melihat perlunya kemampuan sebagai political integrator akan menjadi faktor utama membangun Jawa Timur,” ujar Dr. Wahju, Kamis 27/8/2026).

Dalam konteks tersebut, analisis socio psycho political character menjadi penting untuk mengukur figur yang berpotensi sukses memimpin Jawa Timur pengalaman eksekutif, kemampuan komunikasi, integritas, visi ekonomi, akar politik yang kuat tetapi tidak eksklusif, serta kemampuan menjembatani kelompok sosial dan generasi yang berbeda.

Di antara sejumlah nama yang mulai muncul dalam pembicaraan menuju Pilgub Jatim 2029, Dr. Marhaen Djumadi menjadi salah satu figur yang menarik untuk diperhatikan.

Marhaen memiliki pengalaman sebagai kepala daerah sekaligus pengalaman dalam struktur politik. Kombinasi tersebut menjadi modal yang patut diperhitungkan, meskipun perjalanan menuju 2029 masih panjang dan seluruh figur tentu harus diuji melalui rekam jejak, gagasan serta kapasitas kepemimpinannya.

“Marhaen memiliki modal yang cukup menarik untuk diperhitungkan. Tetapi tentu belum waktunya berbicara seolah-olah kontestasi sudah ditentukan. Yang penting sekarang adalah melihat kapasitas dan rekam jejak masing-masing figur,” ujar Direktur LKHPI tersebut.

Ia menilai salah satu tantangan terbesar Jawa Timur ke depan berada pada sektor ekonomi.

“Jawa Timur membutuhkan economic vision yang mampu membaca arah industrialisasi, hilirisasi, agroindustri, investasi, UMKM dan pariwisata. Pertumbuhan ekonomi harus diterjemahkan menjadi kesempatan kerja dan peningkatan kesejahteraan masyarakat,” jelasnya.

Sementara itu, Anfal Mutiara, S.H., Konsultan pada The City Tower Jakarta, melihat persoalan tersebut dari perspektif generasi muda.

Anfal menegaskan bahwa generasi muda membutuhkan pemimpin yang mampu membaca perubahan dan memberikan arah yang jelas bagi masa depan Jawa Timur.

“Saya melihatnya secara netral. Bagi generasi muda, yang penting bukan hanya siapa yang populer, tetapi siapa yang punya gagasan tentang lapangan pekerjaan, investasi, ekonomi digital, pendidikan dan masa depan Jawa Timur,” ujar Anfal.

Menurutnya, gubernur Jawa Timur mendatang harus mampu menjembatani apa yang dapat disebut sebagai “Jawa Timur lama” dan “Jawa Timur baru.”

“Jawa Timur lama memiliki kekuatan sosial, budaya dan keagamaan yang tidak boleh kehilangan tempat. Tetapi Jawa Timur baru juga datang dengan industrialisasi, teknologi, ekonomi digital dan generasi muda. Pemimpin kedepan harus mampu berbicara kepada keduanya,” imbuhnya.

Pada akhirnya, Pilgub Jatim 2029 masih merupakan perjalanan panjang. Peta politik dapat berubah, figur baru dapat muncul dan konstelasi partai dapat bergerak.

Namun, perdebatan mengenai kepemimpinan Jawa Timur seharusnya dimulai dari pertanyaan yang lebih mendasar bukan hanya siapa yang mampu memenangkan Pilgub, tetapi siapa yang mampu memimpin Jawa Timur setelah memenangkannya.

Dalam konteks itulah, nama Marhaen Djumadi layak menjadi salah satu figur yang diperhitungkan bukan sebagai kandidat yang sudah ditentukan. Tetapi sebagai salah satu figur yang menarik untuk diuji terhadap kebutuhan Jawa Timur pasca-2029.

Sebab, Jawa Timur tidak hanya membutuhkan pemenang kontestasi. Jawa Timur membutuhkan pemimpin yang mampu menyatukan perbedaan, membaca perubahan dan membawa seluruh kekuatan daerah bergerak menuju masa depan.
Share on Google Plus

About matakamera.net

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar

Comments System