Mengikuti Perjalanan Relawan Gabungan Nganjuk Menembus Kobaran Api di Gunung Wilis

kebakaran hutan nganjuk
Relawan yang terdiri dari TNI, polisi, polhut, BPBD hingga masyarakat desa hutan setempat, saat melakukan pendakian menuju titik lokasi kebakaran di hutan Gunung Wilis, yang masuk wilayah Dusun Salamjudeg, Desa Blongko, Kecamatan Ngetos, Nganjuk, Jawa Timur, 17 Oktober 2016 (matakamera.net/foto : BPBD Nganjuk)
matakamera, Nganjuk - Ketika sebagian besar wilayah sedang diguyur hujan, kawasan hutan di lereng Gunung  Wilis Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur ternyata masih rentan terjadi kebakaran hutan. Seperti yang terdeteksi di petak 54-A area hutan lindung Gajah Mungkur, RPH Salamjudeg, Desa Blongko, Kecamatan Ngetos, sejak Minggu malam 16 Oktober 2016. Kawasan yang dilahap api diperkirakan seluas sekitar 1 hektare.

Merespons hal itu, pada Senin pagi 17 Oktober 2016, tim relawan gabungan yang terdiri dari aparat Koramil Ngetos, Polsek Ngetos, Polhut Perhutani Kediri, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nganjuk, dan warga Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Salamjudeg, ramai-ramai melakukan pendakian menuju titik lokasi kebakaran. Perjalanan ditempuh melalui jalur pendakian Mojoduwur Ngetos menuju Dusun Salamjudeg, yang merupakan pintu masuk menuju kawasan hutan lindung Gajah Mungkur. "Hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki, dengan kondisi jalur terjal dan curam," kata Eko Sudarsono, relawan BPBD Nganjuk yang mengikuti ekspedisi.

Tidak Hujan, Tapi Angin Sangat Kencang di Ketinggian

Setelah briefing singkat dan pengecekan peralatan mendaki, tim gabungan yang terdiri dari 20 orang memulai perjalanan tepat pukul 07.00 pagi. Mereka membentuk barisan memanjang menelusuri jalan setapak menanjak. Tidak jarang trek harus ditempuh dengan membelah rerimbunan semak hingga menyisir tebing jurang. Cuaca sepanjang perjalanan cerah dan cenderung panas, sehingga energi anggota tim mudah terkuras. "Kondisi fisik memang harus fit, kalau capek yang harus berhenti istirahat dulu," tutur Eko. BPBD membawa bekal asupan gizi untuk seluruh anggota tim agar mereka tidak kehabisan tenaga sebelum sampai ke lokasi.

Salah satu titik api yang ditemui regu relawan di tengah perjalanan (matakamera.net)
Setelah menempuh perjalanan berat lebih dari tiga jam, relawan gabungan akhirnya sampai di petak 54-A, lokasi di mana titik api sebelumnya terlihat dari kejauhan. Dari dekat, kobaran api ternyata cukup besar dan terasa panas di kulit. Belum lagi asap tebal yang sempat menghalangi pandangan. Tim pun harus mengenakan masker untuk bisa menembus di tengah lokasi kebakaran untuk melakukan pemadaman. "Pemadaman secara manual, dengan membangun ilaran di sekeliling titik api," ujar Eko. Beberapa relawan juga tampak berusaha memadamkan api secara manual dengan cara memukul-mukul menggunakan kayu.

Menurut Eko, angin berhembus cukup kencang saat proses pemadaman dilakukan. Sementara cuaca tampak cerah dan tidak muncul tanda-tanda akan turun hujan. Karena itu, tim relawan harus ekstra hati-hati termasuk menjaga diri, karena kuatnya hembusan angin sewaktu-waktu bisa memicu kobaran api merembet ke mana-mana. Untungnya, api di lahan hutan seluas 1 hektare itu akhirnya bisa dijinakkan sekitar pukul 13.30 siang. Menjelang sore, relawan pun akhirnya turun dengan menyusuri trek yang sama ketika mereka berangkat. "alhamdulillah sampai bawah semua personil dalam keadaan sehat dan lengkap," pungkas Eko.

Masih Rawan Terjadi Kebakaran Susulan 


Di tempat terpisah, Kepala BPBD Nganjuk Soekonjono pada Senin malam 17 Oktober menerima laporan terbaru dari petugas yang memantau kawasan hutan lindung Wilis. Mereka mengaku melihat kemunculan kembali titik api dari kejauhan sekitar pukul 21.00. Menurut Soekonjono, laporan itu akan segera ditindaklanjuti dengan melakukan pengecekan ulang di lokasi pada Selasa pagi, 18 Oktober 2016. "Dalam beberapa hari terakhir wilayah Nganjuk memang tidak turun hujan, makanya masih rawan muncul titik api lagi," ujarnya.

para anggota relawan gabungan berfoto bersama di pintu masuk menuju jalur kawasan hutan lindung Gajah Mungkur yang terbakar (matakamera.net)
Sejauh ini, pihaknya bersama tim gabungan juga masih mendalami apa penyebab utama kebakaran kawasan hutan di Gunung Wilis tersebut. Namun dugaan sementara, kobaran api awalnya dipicu oleh ulah para pencari madu lebah hutan yang membuat sumber api kecil, lalu tertiup angin dan menjadi besar.(ab)

(Panji Lanang Satriadin)







Share on Google Plus

About Matakamera

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment

Comments System

Disqus Shortname