Tutup Ngaji Ramadhan, Santri Ponpes di Jombang Adu Nyali Beratraksi Sepak Bola Api

Foto-foto cuplikan atraksi sepakbola api, yang diperagakan santri Ponpes Salafiyah Syafi'iyah Seblak, Diwek, Jombang, 20 Juni 2016 (mukani)
matakamera, Jombang – Pondok pesantren ini memiliki tradisi unik yang tidak banyak dimiliki pesantren lain. Setiap Bulan Ramadhan, para santrinya terbiasa melakukan kegiatan olahraga di sela mengaji dan belajar ilmu agama. Bedanya, olahraga yang dilakukan cukup berbahaya dan menantang, yaitu sepakbola menggunakan bola berwujud bara api panas.

Sepakbola api sudah menjadi tradisi di Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Desa Seblak, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Terutama, untuk menandai penutupan ngaji kilatan Ramadhan.
Tahun ini atraksi mendebarkan itu digelar Senin  20 malam Juni 2016.
Pesantren yang diasuh Hj. Mahshunah Faruq ini menggelar penutupan ngaji Ramadhan sehari sebelumnya. “Acara sepak bola api ini juga rutin digelar menjelang libur panjang akhir Ramadan dan Lebaran,” ujar Mahfud Maholtra, salah satu pengurus.
Pria asal Kalimantan ini menjelaskan tidak ada ritual persiapan khusus. Para pemain juga tidak ada yang khawatir jika mengalami cedera. “Karena ada teknik khusus untuk menendang agar kaki atau pakaian pemain tidak ikut terbakar,” ujarnya lantas tersenyum.
Setelah shalat Taraweh dan menggelar lomba menulis surat-surat al-Qur’an, para santri menuju lapangan futsal di pesantren tersebut. Setelah mempersiapkan bola yang sudah disulut api, tepat pukul 21.30 pertandingan dimulai.
Saat kick off dimulai, sorak sorai dari para santri di pinggir lapangan ramai terdengar. Saat bola tidak sengaja keluar lapangan, para penonton pun semburat berlarian. Tentu untuk menghindari kobaran api dari bola yang keluar.
Syifa’unnas, sekretaris pengurus pesantren, menjelaskan, para pemain diwajibkan memakai sarung atau celana panjang. Tapi tidak dibolehkan memakai sepatu. Semua harus telanjang kaki alias nyeker. Setiap tim terdiri dari lima pemain. Malam itu pertandingan mempertemukan empat tim. Tiap pertandingan berlangsung dua kali 15 menit. Setelah istirahat lima menit, babak kedua dilakukan pergantian tempat. Aturan pertandingan mengikuti dalam pertandingan futsal. “Karena para santri di sini tiap Selasa dan Jumat sore bertanding futsal, karena pas libur ngaji kitabnya,” katanya.
“Fase penyisihan group akan menghasilkan dua tim yang berhak menuju final,” katanya. Sedangkan tim yang kalah tidak dipertandingkan. “Panitia hanya menyiapkan hadiah buat dua tim, juara dan runner up,” imbuhnya.
Hadiah yang diberikan juga berupa gorengan yang disantap bersama-sama. “Bukan hadiahnya yang diperebutkan, tapi nilai kebersamaan seperti ini akan membekas ketika mereka sudah lulus dari pesantren ini,” ucapnya.
Santri asal Subang, Jawa Barat ini lantas menjelaskan pada pertandingan pertama mempertemukan tim Ayam vs tim Kumbang. Pertandingan pertama dimenangkan tim Ayam dengan skor telak 6-0.
Pertandingan kedua dimenangkan tim Kumbang 4-0 melawan tim Buaya. Pada babak final, tim Ayam berhasil mengalahkan tim Kumbang dengan skor 2-0.“Pada tahun-tahun berikutnya semoga bisa digelar tidak agak malam, mungkin langsung setelah Taraweh, agar semua santri di pesantren sini bisa menyaksikannya ramai-ramai,” ujarnya.
Disinggung kendala dalam menggelar atraksi sepak bola api, Syifa’ mengaku tidak mengalami kendala berarti. “Justeru yang sulit itu mencari kelapa yang akan dijadikan bola, saya harus sampai keliling ke tiga tempat, sampai akhirnya dapat di pasar Jombang,” imbuhnya.
Hal senada diungkapkan Musabih, salah satu pemain. Santri asal Kediri ini selama pertandingan terlihat antuasias dalam mengejar dan menendang bola. Dengan postur tubuh tinggi besar, sering dia menang dalam perebutan bola. “Cuma teman-teman yang main pasti tidak ada yang berani melakukan sundulan bola dengan kepalanya,” katanya lantas tertawa. “Anak-anak ternyata antusias, meski awalnya masih takut untuk menendang bola api,” imbuhnya.
“Awalnya memang takut saat api berkobar dari bola, namun setelah ditendang tidak terasa panas,” kata Alifil Ma’luf, pemain lainnya. Siswa SMK Khoiriyah Hasyim ini mengaku baru pertama kali ikut pertandingan sepak bola api. “Ternyata asyik juga main sepak bola api, tidak seperti yang saya takutkan selama ini,” pungkasnya.
Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Seblak Diwek Jombang berlokasi 200 meter barat makam Gus Dur Tebuireng. Pesantren ini berdiri sejak tahun 1921. Didirikan oleh KH. Ma’shum Ali dan Hj. Choiriyah Hasyim, putri pertama Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari.
Di samping unit pesantren bagi santri putra dan putri, juga memiliki unit pendidikan formal. Mulai jenjang PAUD/TK, MI, MTs sampai MA. Termasuk juga panti asuhan dan unit Tahfidzul Qur’an khusus santri putri. (ab)

Penulis : Mukani, Humas Ponpes Salafiyah Syafi'iyah Seblak Jombang
Share on Google Plus

About Matakamera

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment

Comments System

Disqus Shortname