Mengenang Kiai Hamam, Pengasuh Ponpes Krempyang Nganjuk yang Tutup Usia Hari ini

nganjuk
Foto semasa hidup Almarhum KH Moh. Hamam Ghozali, Pengasuh Ponpes Miftahul Mubtadien Krempyang Nganjuk
Jumat 15 Desember 2017

Sang Kiai Teladan, Bijak dan Sederhana Telah Pergi

Oleh : Dr. M. Ali Anwar, S.Ag., M.Pdi,  Dosen IAI Pangeran Diponegoro Nganjuk

Jum'at 15 Desember 2017, sekitar pukul 10.00 WIB, saya mendapat kabar bahwa KH. Moh. Hamam Ghozali, salah satu Pengasuh Pesantren Miftahul Mubtadien, Krempyang, Tanjunganom, Nganjuk wafat.

Beliau wafat sekitar pukul 09.30 WIB. Tentu mengagetkan bagi saya yang posisi sedang berada di pegunungan, yaitu di Petungulung, Margopatut, Sawahan. Sekitar 20 kilometer  dari arah kota. Saya sedang menghadiri undangan mantan aktifis PMII yang jadi manten kemarin. Saya baru sempat hadir tadi pagi. Begitu dapat kabar demikian, saya bergegas turun.

Kiai Hamam, biasanya saya memanggil beliau saat sowan atau saat bertemu dalam suatu acara. Terutama acara NU. Maklum beliau adalah Ketua Tanfidziyah PC NU Nganjuk periode 2011-2016. Walaupun sudah tidak menjabat sebagai ketua PC NU, beliau masih selalu memikirkan NU. Dalam kondisi sakitpun masih demikian. Itu saya mendengar sendiri saat beberapa kali sowan.

Itulah Kiai Hamam. Kiai yang memiliki tanggungjawab tinggi terhadap amanah yang diembannya. Beliau selalu memberi tauladan bijak dalam bersikap, sederhana dalam berprilaku, memberikan hormat dan menghargai siapapun dalam bergaul. Tidak pernah mengambil jarak dan batas. Semua sebagai cermin keutuhan sosok panutan bagi orang di sekelilingnya.

Beliau memiliki wawasan yang luas. Bukan saja sebagai sosok Kiai yang hanya berkutat di pesantren. Beliau Kiai yang juga pernah menjadi politisi. Beliau menjadi anggota DPRD dari Fraksi PKB periode 2004-2009. Banyak cerita yang saya peroleh. Beliau sosok yang disegani di parlemen. Khas sederhana tetap dijaga. Sikap bijak yang selalu ditampilkan. Ngemong dan berhati-hati terhadap segala sesuatu yang diterimanya. Kalau bukan haknya beliau tidak akan mengambil.

Pesantren yang diasuh bersama kakaknya, KH. Moh Ridwan Syaibani, merupakan pesantran yang saat ini santrinya terbanyak di Nganjuk. Salah satu pesantren tempat saya melakukan penelitian untuk menyelesaikan program Doktor (disertasi) satu tahun silam. Berkembang pesat. Santrinya datang dari berbagai wilayah di Indonesia. Semuanya antara lain berkat tangan dingin beliau.

Selamat jalan Kiai Hamam. Semoga seluruh khilaf dan salah panjenengan diampuni, dan semua amal kebaikan dan amal perjuangan selama ini diterima Allah SWT. Insyaallah surga-Nya menjadi tempat yang layak untuk panjenengan. Kami semua kehilangan. Hanya doa dari kita semua yang mengiringi perjalanan panjenengan.

Semuanya Insyaallah siap melanjutkan perjuangan yang telah penjenengan teladankan. Tegaknya Islam Aswaja dan tagaknya NKRI yang terus akan kami kumandangkan. Itulah antara lain yang panjenengan ajarkan.

Khusnul khotimah, Al-fatihah.

Dr. M. Ali Anwar S.Ag., M. Pd.i

(ab/2017)
Share on Google Plus

About Matakamera

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment

Comments System

Disqus Shortname