Meriahnya Boyong Natapraja 2024: Nganjuk Bak Lautan Lurik, Beragam Atraksi Seni Manjakan Mata Ribuan Penonton

Pj Bupati Nganjuk Sri Handoko Taruna dan istri, Eka Haryati Taruna, menaiki kereta kencana dari Alun-Alun Berbek, saat mengikuti Boyong Natapraja dan Sedekah Bumi 2024, Kamis (6/6/2024)/foto : Pemkab Nganjuk
Jumat 7 Juni 2024

NGANJUK, matakamera.net - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nganjuk melalui Dinas Kepemudaan, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata (Porabudpar) sukses menggelar "Boyong Natapraja dan Sedekah Bumi 2024".

Event budaya kolosal ini diselenggarakan pada Kamis siang (6/6/2024), dengan melibatkan peserta dari seluruh organisasi perangkat daerah (OPD), pelajar SMP-SMA, komunitas-komunitas masyarakat, hingga kontingen dari luar daerah.

Boyong Natapraja adalah pergelaran kirab atau pawai budaya, memperingati pemindahan Ibukota Kabupaten Nganjuk dari Kecamatan Berbek menuju Kecamatan Nganjuk Kota, pada 6 Juni 1880 silam.

Pawai Boyong Natapraja dan Sedekah Bumi 2024 dimulai dari kawasan Alun-Alun Kecamatan Berbek menuju Pendopo KRT Sosro Koesoemo Pemkab Nganjuk, dengan menempuh jarak sejauh 9 kilometer.

Sebagian besar peserta dan panitia Boyong Natapraja 2024 mengenakan baju adat Jawa bermotif lurik/foto : Reza Photowork

Prosesi diawali dengan pemindahan 2 pusaka dari Pendopo Balai Desa Kacangan menuju Pendopo Alun-Alun Berbek. Masing-masing Tombak Kiai Jurang Penatas dan Payung Kiai Tunggul Wulung. Sebelumnya pada Rabu malam (5/6/2024), kedua pusaka tersebut didatangkan dari Pendopo KRT Sosro Koesoemo Pemkab Nganjuk, melalui prosesi Bedol Pusaka.


Selanjutnya, Penjabat (Pj) Bupati Nganjuk Sri Handoko Taruna dan istri, Eka Haryati Taruna yang mengikuti prosesi tersebut, bersama jajaran Forkopimda Kabupaten Nganjuk menaiki kereta kencana menuju Stadion Anjuk Ladang Nganjuk. Mereka tampak kompak mengenakan kostum adat Jawa bernuansa hitam.

Kirab budaya dimulai dari kawasan stadion ini, yang ditandai secara simbolis oleh Kepala Dinas Porabudpar Nganjuk Sri Handariningsih, dengan memberikan sebuah cemeti atau cambuk kepada kusir kereta kuda, serta menabur bunga melati.

Seluruh peserta kemudian melakukan pawai dengan menampilkan beragam kostum dan atraksi kesenian. Tampak dominasi warna lurik dari pakaian yang dikenakan peserta, panitia, bahkan penonton.

Begitu membeludaknya penonton dan peserta yang mengikuti event ini, sekilas membuat Nganjuk tak ubahnya lautan lurik.

Pernak-pernik atraksi seni budaya yang disajikan peserta benar-benar memanjakan mata ribuan penonton. Ada barisan kelompok-kelompok bregada hingga penampilan masing-masing OPD dengan berbagai tema budaya.

Bregada Ungel-Ungelan dari Keraton Yogyakarta turut memeriahkan Boyong Natapraja 2024 Kabupaten Nganjuk/foto : Reza Photowork

Yang istimewa yakni Bregada Ungel-ungelan, prajurit drum band yang didatangkan khusus dari Keraton Yogyakarta. Lalu ada pula atraksi seni reog, jaranan singo barong, patung raksasa Hanuman dan Garuda, hingga kesenian barongsai.


Sampai di Taman Nyawiji, yang berlokasi di Jalan Raya Ahmad Yani Nganjuk, dilakukan prosesi Lampahan Natapraja. Di mana, Pj Bupati Nganjuk, Forkopimda, dan seluruh peserta berjalan kaki menuju Pendopo KRT Sosro Koesemo, di kawasan Alun-Alun Nganjuk.

Setelah sampai di depan Pendopo Pemkab Nganjuk, dilakukan prosesi "Bukak Lawang" dan Penyerahan Pusaka. Kemudian diakhiri dengan Sedekah Bumi "Purakan Gunungan".

Pj Bupati Nganjuk Sri Handoko Taruna mengatakan, Boyong Natapraja dan Sedekah Bumi 2024 ini untuk memperingati peristiwa bersejarah pada Minggu Wage, 6 Juni 1880 silam, atau pada 27 Jumadil Akhir, Wawu 1809 Angka Jawa, Wuku Kuningan, Masa Karolas, Windu Adi.

“Yaitu perpindahan pejabat atau nayakapraja dan Ibukota Kabupaten Berbek ke Kota Nganjuk. Proses pemindahan pejabat dan ibukota ini dilaksanakan sesuai adat Jawa yang berlaku, demi keselamatan semuanya,” terang Sri Handoko.

Atraksi barongan, hanuman dan garuda menghibur penonton Boyong Natapraja 2024 di kawasan Alun-Alun Nganjuk/foto : Panji 

Bukti perpindahan pejabat dan ibukota Berbek tersebut, menurut Sri Handoko Taruna, ditemukan dalam dokumen salinan surat laporan Residen Kediri Meyer kepada Gubernur Jenderal pada tanggal 8 Juni 1880, dengan nomor surat 3024a/4205.


“Landasan perintah memindahkan ibukota Berbek ke Nganjuk Governements besluit van 8 Junij 1875 no. 20. (Surat keputusan pemerintah Hindia Belanda No. 20 tertanggal 8 Juni 1875) yang diterima Bupati Raden Sumowiloyo,” urai Alumnus STPDN Tahun 2000 tersebut.

Lebih lanjut Sri Handoko Taruna menjelaskan, bahwa peristiwa yang populer disebut boyongan tersebut terjadi pada era Bupati Sosrokusumo (III), saat menjabat sebagai Bupati Berbek pada tahun 1878 – 1901. Bupati Sosrokusumo (III) sendiri adalah putra Bupati Berbek Raden Tumenggung Sumowiloyo.

Dalam kesempatan itu, Pj Bupati Handoko juga berpesan agar seluruh masyarakat Nganjuk memahami perjalanan pemerintahan Kabupaten Nganjuk.

“Fakta sejarah ini tidak dapat dipungkiri lagi dan harus dipahami dan dimengerti sebagai ingatan kolektif kita, utamanya para pejabat pemerintahan di Nganjuk,” pesannya.

Oleh karena itu, Pj Bupati Handoko mengajak warga Nganjuk supaya ingat pesan Bung Karno terkait Jas Merah, yaitu jangan sekali-kali melupakan sejarah. Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang tak melupakan sejarahnya.

“Momentum boyong ini, sebagai penyemangat bagi warga masyarakat Nganjuk bahwa dengan sejarah perjalanan pemerintahan Kabupaten Nganjuk yang begitu luar bisa ini, bisa sama-sama kita pedomani jadi semangat gotong-royong dan guyub rukun untuk membangun Kabupaten Nganjuk,” tukas Sri Handoko.

Kepala Disporabudpar Nganjuk Sri Handariningsih menambahkan, ini adalah tahun kedua penyelenggaraan Boyong Natapraja 6 Juni, setelah sukses menggelar event perdana pada 6 Juni 2023 lalu.

"Boyong dilaksanakan setiap tanggal 6 Juni melalui SK Bupati Nganjuk, saat itu Bapak Marhaen Djumadi. Pertama kali digelar pada 2023, dan sekarang adalah tahun kedua, walaupun untuk tradisi boyongnya sendiri sudah dilaksanakan ke-144 kalinya sejak 1880," ujar Sri Handarinigsih.

Sri Handariningsih menyebut Boyong Natapraja kini telah ditetapkan sebagai event budaya tahunan, dan ke depan akan menjadi andalan baru atraksi wisata di Kabupaten Nganjuk.

Septina Dwi Jayanti, salah satu penonton Boyong Natapraja 2024 mengatakan, acara ini terasa sangat meriah dengan berbagai penampilan berbagai seni budaya dan suguhan unik para peserta.

"Pesan sejarahnya dapat, hiburannya juga dapat. Semoga di tahun depan lebih meriah lagi. Bisa menarik wisatawan dari luar kota hingga mancanegara," harap Septina.

Rif/Pas/adv/2024
Share on Google Plus

About matakamera.net

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment

Comments System